0335-846500

Gangguan Pendengaran Akibat Sumbatan Kotoran Telinga (Serumen Obsturan)

Rendahnya tingkat pendidikan di Indonesia telah menyebabkan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang kesehatan. Salah satunya adalah tentang penyakit yang berhubungan dengan alat pendengaran atau telinga. Banyak masyarakat yang kurang peduli dengan kebersihan telinga dan bahkan sangat menyepelekan hal tersebut. Salah satunya adalah tentang serumen obsturan. Di Indonesia, adanya sumbatan kotoran telinga atau seruman obsturan merupakan penyebab utama dari gangguan pendengaran pada sekitar 9,6 juta orang.

anatomi telinga manusia

Serumen obsturan adalah kotoran telinga yang tidak berhasil dikeluarkan dari liang telinga yang dapat menyebabkan sumbatan pada liang telinga bagian luar (canalis acusticus externus). Serumen atau kotoran telinga sendiri secara fisiologis akan terus menerus terbentuk dan akan keluar sendiri pada saat kita mengunyah, menelan, atau pergerakan rahang bawah. Sedangkan manfaat dari serumen adalah sebagai pelindung telinga dari binatang kecil agar tidak masuk ke dalam telinga, sebagai pelumas yang dapat mencegah liang telinga menjadi kering dan gatal juga sebagai anti bakteri dan anti jamur.

Tetapi serumen atau kotoran telinga yang tidak berhasil dikeluarkan dari liang telingalah yang dapat menyebabkan sumbatan pada liang telinga bagian luar. Pengerasan serumen ini dapat terjadi pada semua usia, dari mulai anak-anak, remaja, orang dewasa sampai lansia. Akibat yang ditimbulkan oleh serumen obsturan yaitu pendengaran berkurang, telinga berdengung, kepala berputar hingga rasa nyeri ketika serumen obsturan menekan telinga. Bahkan komplikasi yang bisa terjadi akibat dari serumen obsturan yaitu infeksi pada liang telinga luar (otititis eksterna), infeksi telinga tengah, bahkan lecet pada saluran telinga (meatus akustikus eksterna).

Hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya kotoran telinga yang menyumbat atau serumen obsturan antara lain adalah menghilangkan kebiasaan jelek mengorek telinga untuk membersihkan liang telinga. Tindakan tersebut bukan hanya merangsang terbentuknya serumen lebih banyak, namun juga berisiko terinfeksi akibat iritasi saat membersihkan liang telinga baik dengan cotton bud (kapas lidi), ujung handuk, tisuue dan lain-lain. Tindakan mengorek telinga juga menyebabkan serumen makin terdorong ke dalam bahkan juga berisiko menyebabkan pecahnya gendang telinga. Yang perlu dilakukan untuk menghindari terjadinya serumen obsturan adalah mengurangi pemakaian sumbat telinga seperti headset dalam jangka waktu yang lama.

dr. Riza Hidayat,SP.THT-KL dokter spesialis THT di poli spesialis RS Graha Sehat Kraksaan

Dan untuk membantu masyarakat yang ingin memeriksakan kondisi kesehatan telinga, hidung, tenggorokan, kepala dan leher, Rumah Sakit Graha Sehat membuka layanan poli spesialis THT dengan dr Riza Hidayat, SP.THT-KL setiap hari rabu, kamis dan jumat jam 14.00 WIB sampai dengan jam 16.00 WIB.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *